Sampai catatan ini dimuat, saya sama sekali belum pernah mendaki gunung hingga memuncak seperti yang telah dijalani beberapa orang yang merasakannya. Saya memahami (bolehlah tidak sepakat) bahwa pendaki gunung adalah seseorang yang membawa ransel khusus dengan segala perlengkapannya dan mendaki ke puncak untuk having fun, healing, validasi, atau menggali eksistensi diri mereka. Akan tetapi, bagaimana jika tujuan mendaki tak lain dan tak bukan adalah demi berdamai dengan masa lalunya?
Ya. Itulah pertanyaan yang telah diusahakan jawabannya oleh Bayu Skak dalam film berjudul Sekawan Limo (dalam bentuk baku seharusnya Sekawan Lima) ini. Film rilisan tahun 2024 ini awalnya mengisahkan dua sejoli, Bagas dan yang berniat liburan ke Gunung Madyopuro (gunung fiksi) untuk mendaki dan mereka mendapati hal-hal yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya hingga harus melunasi apa yang terpendam dari mereka berdua dan karakter-karakter pendukung yang menemani.
Hmm, saya boleh bilang judul film ini menarik karena dapat memunculkan siapa karakter yang “hilang” dalam cerita ini dengan mengartikannya secara harfiah (Empat Lima). Di samping itu, pria bernama asli Bayu Moektito ini telah menggabungkan pengetahuan mistis masyarakat Jawa, dalam hal ini tentang malam 1 Sura dalam penanggalan kalender Jawa atau 1 Muharram dalam penanggalan kalender Hijriyah, dengan pengetahuan logis yang sedang digandrungi beberapa pemuda kalangan generasi Z ini bahwa seseorang perlu mengedepankan kenyataan alih-alih kegaiban padahal yang tidak tampak itu pun juga punya kehidupannya dan perlu diposisikan secara seimbang sesuai porsinya.
Dengan menarasikan isu kepahitan hidup tanpa mengurangi unsur kedaerahan ini, film ini bisa dinikmati secara ringan dan bisa diikuti pelan-pelan jika kalian belum mengerti dialog berbahasa Jawa Timur Arekan ini. Santai aja, saya nggak maksa kok. 😊