Di era dunia sedekat ujung jari ini, hampir segala segi kehidupan bisa kita putuskan berdasarkan penilaian orang lain. Bahkan, teman dan tetangga pun menjadi pembisik kita dalam menentukan suatu pilihan. Tak jarang, terkadang kita lalai memikirkan, mempertimbangkan, maupun merenungkan terlebih dahulu atas preferensi yang telah dieksekusi sebelum dan sesudahnya.
Itulah yang saya pahami dari serial antologi Black Mirror dengan nama episode Nosedive. Charlie Brooker, konseptor cerita satire ini, mengajak kita untuk menyelami bagaimana masyarakat dibentuk kehidupannya berdasarkan penilaian orang lain. Sesedih, sejengkel, semenyebalkan, sebenci, dan sekecewa kita atas apa yang kita rasakan terpaksa harus kita tutupi dengan berpura-pura senang, bahagia, dan gembira. Perasaan palsu itulah yang nanti berguna untuk meraih apa yang kita mau. Lebih lanjut, dengan teknologi futuristik di dalamnya, semua orang bebas menilai dan menghakimi tanpa sekat dan batasan.
Sebagai pamungkas, episode pertama dari season ketiga mengingatkan kita untuk mengenali diri sesuai dengan potensi dan keunikan yang kita punya alih-alih memaksa kita untuk “memanjat” demi menyenangkan orang lain. Di samping itu, saya diajari untuk bersyukur sekaligus memfokuskan diri untuk berbuat kebaikan tanpa “mencelakai” diri saya sendiri.